semangat

Selasa, 28 Februari 2012

Naskah Drama Abunawas



ABUNAWAS
Pengisi Suara
 


Disuatu kerajaan di Baghdad yang dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Sultan Harun Al-rashid terdapat seorang tokoh lucu yang tiada bandingannya. Tokoh ini bernama  Abunawas, ia berasal dari Persia, setelah dewasa ia mengembara ke Bashrah dan Kufah, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri pada Raja Sultan Harun Al-rashid.
Awal perkenalan Raja dengan Abunawas. Pada saat itu dikerajaan Baginda Raja.

Raja                      :   Kabar apa yang kau bawa hari ini, penasihatku?
Penasihat             :   Baginda yang mulia, sepertinya rakyat banyak yang sudah jatuh hati pada seorang pemuda yang bernama Abunawas, ia sering sekali dibicarakan oleh masyarakat. Menurut mereka, ia banyak membantu rakyat dalam memecahkan masalah dan bersikap dermawan. Sepertinya ia lebih terkenal dari Baginda Raja.
Raja                      :   Abunawas! Siapa dia?
Penasihat             :   Dia belum lama tinggal di Negeri ini Baginda Raja. ia tinggal di desa sebelah utara Negeri ini.
Raja                      :   Ini tidak bisa dibiarkan tidak ada yang boleh lebih terkenal dari pada aku!
Penasihat             :   Benar paduka, bila ini terus berlangsung, bisa–bisa rakyat menginginkan dia untuk menjadi pemimpinnya dan posisi paduka bisa terancam.
Raja                      :   Apakah akan seperti itu! Ini tidak bisa dibiarkan, menurutmu apa yang harus aku lakukan?
Penasehat             :   Baginda yang mulia, undanglah Abunawas kemari! Kita lihat seperti apa dia dan secerdik apakah dia.
Raja                      :   Yah... kau benar... sepertinya aku dapat sesuatu untuk salam perkenalanku dengannya.

Untuk memenuhi ambisinya Baginda Raja menerima saran dari penasihat kepercayaannya, dan  ke esok harinya Baginda memerintahkan pengawalnya untuk membawa Abunawas kehadapanya. Baginda Raja sudah menyiapkan hadiah yang telah ia persiapkan untuk kedatangan Abunawas. Setelah Abunawas tiba di istana, Baginda Raja menyambut kedatangan Abunawas dengan sebuah senyuman.

Abunawas            :   Hamba Baginda Raja, apa yang bisa hamba lakukan sehingga hamba dipanggil kemari?
Raja                      :   Jadi kau yang bernama Abunawas, senang bertemu denganmu. Aku dengar kau adalah orang yang bisa mengatasi berbagai masalah. Oleh karena itu, aku memerlukan bantuanmu.
Abunawas            :   Hamba hanya orang biasa yang mulia, memangnya apa yang bisa hamba bantu?
Raja                      :   Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut, kata tabib istanaku, aku terkena serangan angin.
Abunawas            :   Lalu apa yang bisa hamba bantu, ya Baginda?
Raja                      :   Aku hanya menginginkan engkau untuk menangkap angin dan memenjarakannya!

Abunawas terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Yang ia pikirkan bukan bagaimana menangkap angin tetapi ia bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkapnya itu memang benar-benar angin.

Abunawas            :   Baiklah, Baginda Raja. Hamba siap menjalankan tugas dari Baginda Raja, bari hamba waktu 3 hari untuk menyelesaikan tugas ini.
Raja                      :   Baiklah, tetapi apabila kau tidak bisa membawakan angin dan memenjarakannya , maka kau harus dihukum.

Abunawas pun pulang dengan membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abunawas tidak bersedih hati, karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan sudah menjadi suatu kebutuhan.

Raja                      :   Penasihatku, apa menurutmu Abunawas akan berhasil menyelesaikan tugasnya?
Penasihat             :   Tentu saja tidak Baginda, ini hal yang mustahil, angin saja tidak dapat dilihat. Jadi, bagaimana bisa menangkap angin apalagi memenjarakannya.
Raja                      :   Hahaha haha......., kita lihat saja nanti. Pasti dia akan mendapat hukuman.

Setibanya dirumah, Abunawas menceritakan apa yang terjadi di istana kepada istrinya.

Istri Abunawas    :   Suamiku, apa yang dibicarakan Raja dengan mu, sampai-sampai ia memanggilmu ke istana?
Abunawas            :   Baginda menyuruhku untuk menangkap angin dan memenjarakannya. Bila aku gagal melaksanakan tugas ini, maka aku akan dihukum.
Isti Abunawas      :   Apa? Memenjarakan angin itu hal yang mustahil, suamiku.
Abunawas            :   Tidak istriku, tidak ada yang mustahil, jika Tuhan berkehendak, maka apapun akan terjadi. Kita harus percaya Allah akan menolong kita. Kau tenang saja, aku akan memikirkan caranya.

Dua hari telah berlalu, tetapi Abunawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Abumawas duduk didepan rumahnya ditengah malam, sambil memandangi bintang-bintang dan mendengarkan suara-suara hewan malam. Ia masih memikirkan akal apa yang harus ia pakai untuk menyelesaikan tugas Baginda Raja. tak lama kemudian Istri Abunawas keluar menghampiri Abunawas dengan membawa makanan untuk cemilan dan duduk disamping Abunawas.

Istri Abunawas    :   Besok adalah hari terakhir mu menyelesaikan tugas dari Baginda Raja, apakah kau sudah menemukan caranya?
Abunawas            :   Belum, aku belum mendapat akal. Biarlah apapun hasilnya besok aku akan menghadap Baginda Raja.

Abunawas hampir putus asa, ia tidak bisa tidur walau hanya sekejap. Ke esok paginya ia berjalan gontar menuju istana. Disela-sela kepasrahannya kepada takdir ia teringat dengan Aladin dan Lampu wasiatnya.

Abunawas            :   Itu dia.......... bukankah jin itu tudak bisa terlihat! Ahhhhhhh ia ia. Itu dia, akhirnya aku menemuka akal.

Abunawas berjingkrak riang dan segera kembali pulang, dan sesampainya dirumah.

Isrti Abunawas    :   Kau sudah pulang, apa tugasmu sudah selesai?
Abunawas            :   Belum, aku baru saja mendapatkan ide. Istriku tolong kau siapkan botol, aku akan membawanya kepada Raja!
Istri Abunawa      :   Aku tidak mengerti, tetapi baiklah.

Setelah Abunawas mendapatkan apa yang ia cari, kemudian ia pergi menuju Istana. Dipintu gerbang istana Abunawas langsung dipersilahkan masuk oleh penjaga  istana, ternyata Baginda Raja telah menunggu kedatangan Abunawas.

Penjaga Istana    :   Masuklah Abunawas, kau sudah ditunggu Baginda Raja.
Abunawas            :   Terimakasih.
Raja                      :   Abunawas! Sudahkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya?
Abunawas            :   Hamba Baginda, hamba sudah memenjarakannya didalam botol.
Raja                      :   Mana angin itu, Abunawas?
Abunawas            :   Ampun tuanku, memang angin tidak bisa dilihat  tetapi bila paduka ingin tahu angin. Tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu.

Dengan perlahan Baginda membuka tutup botol itu.

Raja                      :   Bau apa ini? Bau sekali..... Abunawas! Bau apa ini?
AbUnawas            :   Ampun Baginda Raja, tadi hamba buang angin besar dan hamba memasukkannya kedalam botol, hamba takut angin yang hamba buang itu keluar, jadi hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol itu.
Penasihat             :   Abunawas, yang baginda inginkan untuk kau memenjarakan angin. Jadi, mana wujud angin itu?
Abunawas            :   Maaf Baginda Raja, sebelumnya pasti Baginda Raja sudah tahu bahwa angin itu tidak dapat dilihat tetapi kita dapat merasakannya. Oleh karena itu, hamba ingin lebih membuktikannya dengan bau ini.

Mendengar panuturan dari Abunawas, Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abunawas memang masuk akal. Dari situ Baginda Raja mulai menyukai sosok Abunawas. Baginda ingin mengangkat Abunawas menjadi seorang kadi atau orang yang memutuskan segala perkara, tetapi Abunawas menolaknya. Meskipun demikian dari situ Abunawas sering kali diajak konsultasi oleh Raja. terkadang Baginda sering sekali memanggil Abunawas hanya untuk menjawab pertanyaan Baginda yang aneh-aneh.
        Dan tugas Abunawas pun telah selesai. Hari terus berganti hari, hingga pada suatu sore, ketika Abunawas sedang mengajar  murid-muridnya. Dan Abunawas sendiri adalah seorang sufia atau ulama besar sehingga tidak heran ia memiliki murid yang banyak. Ada dua orang tamu, sepasang suami-istri datang kerumahnya. Suami-istri itu berkebangsaan Mesir.

Pria tua               :   Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu tuan, kami datang kemari untuk mengadukan ketidak adilan yang dilakukan oleh tuan kadi kepada kami, kami tidak tahu harus mengadukan ini kepada siapa karena kami baru di kota ini. Dan kami dengar tuan Abunawas adalah orng yang bisa memecahkan berbagai masalah.
Abunawas            :   Masalah yang aku atasi adalah izin dari Allah, aku hanya berdo’a kepada-Nya untuk selalu membarikan jalan yang benar. Baiklah ketidak adilan apa yang ingin kau adukan?

Setelah mendengar penuturan dari keduanya, Abunawas menyuruh murid-muridnhya menutup kitab mereka. Semua murid heran, mereka tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh guru mereka. Namun mereka begitu patuh kepada guru mereka. karena mereka yakin gurunya selalu membuat kejutan dan berada dipihak yang benar.

Abunawas            :   Murid-muridku semua, besok malam pergilah kerumah tuan kadi dengan membawa batu dan kayu, lalu hancurkanlah rumah tuan kadi.
Murid-murid        :   Hah merusak rumah tuan kadi?
Abunawas            :   Kalian semua jangan ragu! Lakukanlah sesuai apa yang aku perintahkan. Barang siapa yang mencegahmu jangan kau hiraukan, terus hancurkan rumah tuan kadi yang baru. Barang siapa yang bertanya katakan saja, aku yang menyuruh kalian untuk menghancurkan rumah tuan kadi. Dan barang siapa yang hendak melempar kalian maka pukulilah meraka dan lemparilah dengan batu.
Pria tua               :   Tuan Abunawas, sebenarnya rencana apa yang hendak tuan lakukan, mengapa harus menghacurkan rumah tuan kadi?
Abunawas            :   Kalian bilang ingin menuntut keadilan bukan?! Kalian tenang saja biar aku yang mengurus masalah ini.

Ke esokan malamnya, murid-murid Abunawas bergerak kearah rumah tuan kadi. Laksanan demonstran, mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah tuan kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan mereka.

Murid-murid        :   Ayo semua… Hancurkan rumah tuan kadi!! Hancurkan!!  Hancurkan!!

Orang-orang kampung berusaha mencegah tindakan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abunawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah. Melihat banyak orang merusak rumahnya, tuan kadi segera keluar dari rumahnya.

Tuan kadi            :   Hentikan!!! Hentikan!! Kalian semua, apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menghancurkan rumahku? Siapa yang menyuruh kalian?
Murid-murid        :   Guru kami, tuan Abunawas yang menyuruh kami.
Tuan kadi            :   Apa? Abunawas? Keterlaluan dasar Abunawas provokator! Orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda Raja.

Murid-murid Abunawas terus menghancurkan rumah tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Dan ke esokan harinya, tuan kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abunawas di panggil menghadap Baginda Raja.
Tuan kadi            :   Ampun Baginda Raja, hamba kemari ingin mengadukan kejahatan Abunawas yang telah merusak rumah hamba tanpa sebab. Baginda, ia memerintahkan murid-muridnya untuk menghancurkan rumah hamba hingga rata dengan tanah.
Raja                      :   Baiklah, aku akan memanggil Abunawas untuk menjelaskan masalah ini.

Baginda Raja memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Abunawas. Setelah Abunawas menghadap Baginda Raja, ia ditanya oleh Baginda Raja dan penasihatnya.

Raja                      :   Hai Abunawas! Apa sebab musababnya kau merusak rumah kadi itu?
Penasihat             :   Tidak tahukah kau Abunawas, perbuatanmu itu telah melanggar hukum!
Abunawas            :   Wahai tuanku, sebabnya adalah pada suatu malam hamba bermimpi. Bahwasanya tuan kadi menyuruh hamba merusak rumahnya, sebab rumah itu tidak cocok baginya. Ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi, karena mimpi itulah maka hamba merusak rumah tuan kadi.
Penasihat             :   Hai Abunawas, apa kau sudah tidak waras? Bolehkah hanya karena kau bermimpi sebuah perintah. Maka kau melakukannya? Hukum dari negeri manakah yang engkau pakai itu?
Raja                      :   Abunawas, kau sungguh keterlaluan! Sadarkah apa yang telah kau lakukan?!
Abu nawas           :   Maaf Baginda Raja, hamba memakai hukum tuan kadi yang baru ini tuanku.

Mendengar perkataan Abunawas, seketika wajah tuan kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa.

Raja                      :   Hai kadi, benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?
Kadi                      :   I… itu … itu ……

Tuan kadi tidak menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.

Raja                      :   Abunawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini?!
Abunawas            :   Baiklah, tetapi untuk lebih jelasnya. Hamba telah membawa dua orang suami-istri yang menjadi korban hukum tuan kadi. Mereka telah berada di luar gerbang istana, izinkan hamba untuk memanggil mereka.
Raja                      :   Baiklah!

Abunawas pun pergi untuk memanggil kedua orang tersebut.

Abunawas            :   Inilah mereka baginda raja, biarkan mereka yang menjelaskan kejadiannya!
Pria tua               :   Sebelumnya kami minta maaf Baginda Raja, kami disini adalah orang baru. Kami datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang dengan membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu hari rumah kami di datangi oleh tuan kadi, tuan kadi berkata bahwa pada suatu malam ia bermimpi putrinya kawin dengan putra kami dengan mahar sekian banyak. Lalu maksud kedatangannya untuk mengambil mahar atau mas kawin itu, padahal itu hanya mimpi Baginda. Tentu saja kamu tidak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Tetapi tuan kadi memaksa dan merampas harta benda milik kami sehingga kami menjadi seorang pengemis gelandangan.

Baginda Raja terkejut mendengar penuturan dari orang tersebut. Baginda Raja pun menanyakan dan meminta pengakuan dari tuan kadi.
Raja                      :   Kadi! Apa benar apa yang di katakana oleh orang ini?
Kadi                      :   I…itu…itu… maaf Baginda Raja. Hamba tidak bermaksud melakukan itu, maafkan hamba Baginda Raja.
Raja                      :   Kurang ajar!! Ternyata aku telah mengangkat seorang kadi yang bejat moralnya. Mulai sekarang aku pecat kau sebagai seorang kadi dan seluruh harta bendamu harus diberikan kepada dua orang ini.
Tuan kadi            :   Baginda Raja, kumohon kebijakanmu. Aku menyesal atas perbuatanku, aku tidak akan mengulanginya. ku mohon Baginda Raja beri aku kesempatan untuk memperbaiki diriku.
Raja                      :   Ya, aku berikan kau waktu untuk memperbaiki dirimu. Tapi tidak dengan jabatanmu sekarang! Pengawal!! Bawa orang ini keluar dari istanaku.

Akhirnya tuan kadi pun mendapat balasan sesuai apa yang telah di perbuatnya. Ia kini harus memulai dari awal lagi karena ia kini tidak memiliki apa-apa.
Setelah perkara selesai, kembalilah kedua orang itu dengan Abunawas pulang ke rumahnya, kedua orang itu hendak membalas kebaikan Abunawas.

Pria tua               :   Kami ucapkan terima kasih banyak kepada tuan, kami ingin membalas kebaikan tuan Abunawas. Kami mohon terimalah imbalan terima kasih kami ini.
Abunawas            :   Janganlah engkau memberiku barang sesuatu kepadaku, aku tidak akan menerimanya sedikitpun juga.

Kedua orang tersebut benar-benar mengagumi Abunawas, ketika kedua orang tersebut kembali ke negeri asalnya, mereka menceritakan tentang kebaikan Abunawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abunawas menjadi sangat terkenal.
Setelah perkara itu, Abunawas hampir tidak lagi di panggil ke istana untuk menghadap Baginda Raja, hal itu membuat Abunawas tenang. Abunawas pun melakukan aktivitasnya seperti biasa dengan lancar, seperti bekerja, mengajari murid-muridnya dan sering minum di kedai teh.
Saat abunawas berjalan pulang, di kejauhan ia melihat beberapa prajurit kerajaan di rumahnya. Hati Abunawas langsung cemas, ada suatu hal yang tidak beres di sana.

Abunawas            :   Lagi-lagi Raja berbuat ulah, hah….!!! Hai, kalian! Apa yang sedang kalian lakukan. Kenapa kalian membongkar dan menggali tanah rumahku?
Prajurit                :   Kami hanya menjalankan titah Baginda Raja. Karena kami tidak menemukan apa yang kami cari, maka kami akan pergi.

Prajurit-prajurit itu pun pergi tanpa menemukan apa yang mereka cari. Abunawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya.

Istri Abunawas    :   Beberapa pekerja kerajaan atas titah Baginda Raja, tiba-tiba langsung saja membongkar dan terus menggali tanah rumah kita tanpa bisa di cegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah kita terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya, tetapi emas dan permata itu tidak di temukan dan mereka seenaknya pergi dengan rumah kita yang berantakan seperti ini.
Abunawas            :   Sudahlah jangan kau basahi pipi mu untuk menangisi hal seperti ini. Berdoalah minta kesabaran pada Tuhan. Tetapi ini tidak bisa dibiarkan.
Istri Abunawas    :   Apa maksud mu ?
Abunawas            : Aku harus memberikan pelajaran atas perbuatan Raja ini.
Istri Abunawa      :  Sudahlah, tidak baik menyimpan dendam seperti itu, kita ikhlaskan saja dan bersabar.

Dua hari setelah peristiwa itu berlalu dan Baginda Raja juga tidak meminta maaf kepada Abunawas, apalagi mengganti kerugian. Inilah yang membuat Abunawas memendam dendam.

Istri Abunawas    :   Suami ku, kau masih memikirkan kejadian kemarin sudahlah kau bilang kita harus bersabar kan !
Abunawas            :   Kau benar tapi kita juga jangan hanya berpasrah.
Istri Abunawas    :   Lalu apa yang akan kamu lakukan ? lihatlah makanan yang aku hidangkan dikelubungi lalat karena tidak kau makan.

Melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abunawas yang sudah basi, ia tiba-tiba tertawa riang.

Abunawas            :   Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku yang sudah basi.
Istri Abunawas    :   Untuk apa?
Abunawas            :   Membalas Baginda Raja.
Istri Abunawas    :   Apa kau benar-benar ingin melakukannya, suamiku?
Abunawas            :   Iya, Baginda Raja tidak bisa seenaknya saja seperti ini. Ia tidak bisa sewenang-wenangnya meskipun ia seorang raja.

Dengan muka berseri-seri Abunawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abunawas membungkuk hormat.

Abunawas            :   Ampun tuanku, hamba menghadap tuanku baginda raja hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa izin dari hamba dan berani memakan makanan hamba.
Raja                      :   Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu, wahai Abunawas?
Abunawas            :   Lalat-lalat ini tuanku, kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda Raja junjungan hamba.
Raja                      :   Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?
Abunawas            :   Hamba hanya menginginkan izin tertulis dari Baginda Raja sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.
Raja                      :   Bagaimana menurutmu, penasihatku?
Penasihat             :   Disituasi seperti ini, Baginda Raja harus menunjukkan keadilan dan kebijakan Baginda Raja.

Akhirnya Baginda Raja membuatkan surat izin yang isinya memperkenankan Abunawas memukul lalat-lalat itu dimanapun mereka hinggap.

Abunawas            :   Terima kasih Baginda Raja, hamba sudah membawa tongkat besi dari rumah.
Baginda Raja dan penasihatnya heran dengan apa yang akan dilakukan Abunawas dengan tongkat itu. Abunawas pun membuka tutup kain dipiringnya dan mengusir lalat-lalat yang ada dipiringnya hingga lalat-lalat itu terbang dan hinggap di sana-sini. Abunawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu.
Ada yang hinggap di kaca, guci, vas bunga, tembok, bahkan Abunawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan baginda raja. Alhasil, sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abunawas.

Abunawas            :   Baginda Raja, bagaimana ini? Abunawas menghancurkan semua barang-barang kesayangan Baginda Raja.
Raja                      :   Aku tidak percaya ini. Ini semua salahmu!
Penasihat             :   Loh…… Kenapa Baginda Raja jadi menyalahkan saya? Bukankah Baginda Raja yang telah mengacak-acak rumah Abunawas karena mimpi Baginda Raja? Abunawas melakukan ini pasti karena tidak terima atas perbuatan Baginda Raja.
Raja                      :   Sudahlah…… aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyadari kekeliruan yang telah aku lakukan terhadap Abunawas dan keluarganya.

Setelah selesai memukuli lalat-lalat itu dan membuat seluruh barang-barang kesayangan Baginda Raja hancur. Abunawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.
Setelah Abunawas pulang Baginda Raja hanya bisa bergumam.

Raja                      :   Abunawas yang cerdik dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.

Baginda Raja belajar banyak dari apa yang telah dilakukan Abunawas baik terhadap dirinya maupun masyarakat.



CREATIF BY:

DIAN NOVIANA KANDHI
YOLAYA NURLAILA
YORA SEPTINIAR
SEPTYAN DWI CAHYO
HASBILAH SARTIAN
PUNTA RAHARDI










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar